SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memprioritaskan penanganan sistem drainase di sejumlah ruas jalan utama Kota Sampit sebagai upaya mengurangi risiko banjir yang kerap terjadi saat hujan deras.
Langkah tersebut diambil menyusul terjadinya banjir yang sempat menggenangi sejumlah kawasan di Kota Sampit beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh kapasitas drainase yang belum optimal dalam menampung dan mengalirkan debit air saat curah hujan tinggi.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kabupaten Kotawaringin Timur, Mentana Dhinar Tistama, mengatakan pada tahun 2026 pemerintah daerah akan memfokuskan penanganan drainase pada dua ruas jalan utama, yakni Jalan DI Panjaitan dan Jalan Tjilik Riwut.
“Ada beberapa kegiatan drainase tahun ini. Yang utama di jalan utama ada dua, yakni di Jalan DI Panjaitan dan Jalan Tjilik Riwut. Kalau drainase lingkungan juga ada,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Mentana, selain memperbaiki sistem drainase, proyek tersebut juga akan dibarengi dengan pembenahan infrastruktur jalan yang selama ini menjadi salah satu keluhan masyarakat.
Ia menjelaskan saat ini kedua proyek masih berada pada tahap persiapan lelang. Proses lelang diperkirakan dimulai pada Juni 2026 dan membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, penandatanganan kontrak pekerjaan dapat dilakukan pada pertengahan Juli mendatang.
Untuk penanganan di Jalan Tjilik Riwut, pekerjaan akan difokuskan pada kawasan yang selama ini sering mengalami genangan air dan kerusakan jalan. Ruas yang menjadi prioritas berada di sekitar kawasan Wengga Metropolitan menuju pusat Kota Sampit.
“Untuk tahap pertama kurang lebih sekitar 600 meter. Kawasan itu menjadi perhatian karena sering banjir,” katanya.
Mentana menilai Jalan Tjilik Riwut layak menjadi prioritas karena merupakan salah satu akses utama menuju Kota Sampit. Selain itu, kapasitas jalan maupun sistem drainase di kawasan tersebut dinilai sudah tidak lagi sebanding dengan pertumbuhan lalu lintas dan perkembangan kawasan perkotaan.
“Tjilik Riwut ini akses utama masuk ke Sampit. Kapasitas jalannya juga dinilai perlu ditingkatkan karena jalannya termasuk sempit. Dua mobil aja sudah hampir dempet,” bebernya.
Sementara itu, penanganan drainase di Jalan DI Panjaitan akan dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan pembangunan saluran dari bagian hilir atau muara terlebih dahulu. Ruas yang akan ditangani membentang dari kawasan Jembatan Sei Mentawa hingga menuju Jalan Pelita.
Menurut Mentana, metode tersebut diterapkan agar aliran air memiliki jalur pembuangan yang jelas sehingga sistem drainase dapat berfungsi secara maksimal.
“Konsepnya kita mulai dari muaranya dulu supaya aliran air punya jalur pembuangan yang jelas. Kalau bagian atas dulu yang dibangun, nanti airnya mau dibuang ke mana. Jadi kita kerjakan bertahap dari bawah ke atas,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur berharap pembangunan drainase pada dua titik strategis tersebut mampu mengurangi persoalan genangan air yang selama ini terjadi saat musim hujan. Selain itu, pembenahan infrastruktur tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan keselamatan masyarakat dalam beraktivitas serta mendukung pengembangan kawasan perkotaan yang lebih tertata.










































