SAMPIT, Kalteng Plus – Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran disebut turut berdampak pada sektor ekonomi lokal, termasuk anjloknya harga rotan mentah di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Pengusaha rotan di Kecamatan Kota Besi, H Dahlan Ismail, mengungkapkan bahwa penurunan harga terjadi akibat pembatalan permintaan dari pembeli luar negeri serta semakin ketatnya pengawasan jalur distribusi tidak resmi.
“Harga rotan turun. Dampak perang, banyak buyer membatalkan pesanan. Ditambah lagi pengawasan di jalur-jalur tikus sekarang makin ketat,” ujarnya, Selasa.
Ia menjelaskan, harga rotan mentah di wilayah Kota Besi, Cempaga, dan sekitarnya yang sebelumnya mencapai Rp6.000 per kilogram kini turun menjadi Rp4.500 hingga Rp5.000 per kilogram. Bahkan di Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, harga anjlok hingga Rp3.000 per kilogram.
Kondisi ini dikeluhkan para petani karena berdampak langsung terhadap pendapatan mereka. Meski demikian, sebagian petani tetap melakukan panen dan penjualan untuk memenuhi kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Menurut Dahlan, konflik global memengaruhi permintaan pasar terhadap produk rotan Indonesia. Banyak pembeli memilih menunda atau membatalkan transaksi karena faktor keamanan dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Akibatnya, pabrik pengolahan rotan juga mulai membatasi pembelian bahan baku dari daerah, termasuk dari Kotawaringin Timur.
“Gudang-gudang besar di Cirebon mulai mengurangi pembelian karena kondisi keuangan mereka menipis, sementara stok masih banyak,” jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah gudang penampungan rotan di luar Kalimantan bahkan sudah mulai tutup sejak awal Ramadhan. Di Banjarmasin, saat ini hanya tersisa dua gudang yang masih beroperasi.
“Kalau kondisi ini terus berlanjut, setelah Lebaran kemungkinan makin banyak gudang yang tutup. Ini tentu sangat berdampak bagi petani,” ungkapnya.
Dahlan berharap situasi global segera membaik agar permintaan rotan kembali normal. Pasalnya, sektor rotan selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan utama bagi ribuan masyarakat di Kotawaringin Timur.





















