SAMPIT – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, mendorong seluruh Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) di Kalimantan Tengah untuk memperluas jaringan layanan air bersih hingga ke wilayah pelosok, perbatasan, dan desa-desa yang selama ini masih kesulitan mendapatkan akses air minum layak.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Musyawarah Antar Perusahaan Air Minum Daerah (Mapamda) Provinsi Kalimantan Tengah yang digelar di Aula Perumdam Tirta Mentaya Kotim, Jumat (19/6/2026).
Menurut Irawati, target Swasembada Air Tahun 2029 yang dicanangkan pemerintah tidak akan tercapai apabila layanan air bersih hanya terpusat di kawasan perkotaan. Karena itu, seluruh Perumdam perlu melakukan pemetaan ulang wilayah pelayanan serta mempercepat perluasan jaringan distribusi.
“Swasembada Air 2029 tidak akan pernah tercapai jika air bersih hanya dinikmati oleh masyarakat di kawasan perkotaan saja. Seluruh Perumdam perlu melakukan pemetaan ulang dan memperluas jaringan pipa distribusi hingga menjangkau wilayah pelosok, perbatasan, dan desa-desa yang selama ini kesulitan air bersih,” ujarnya.
Irawati menegaskan bahwa air bersih merupakan kebutuhan dasar sekaligus hak masyarakat yang harus dipenuhi oleh pemerintah melalui pelayanan yang berkualitas dan merata. Oleh sebab itu, seluruh Perumdam di Kalimantan Tengah dituntut bekerja lebih cepat dan terukur dalam meningkatkan cakupan layanan.
“Air minum yang layak bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi hak dasar masyarakat yang harus kita penuhi bersama. Waktu menuju 2029 semakin dekat sehingga dibutuhkan langkah nyata dan terukur,” katanya.
Ia mengungkapkan, Kalimantan Tengah memiliki tantangan tersendiri dalam penyediaan layanan air minum. Selain luas wilayah yang sangat besar, masih banyak daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan perpipaan.
Di sisi lain, tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) di Kalimantan Tengah masih tergolong tinggi, yakni mencapai sekitar 33,51 persen. Kondisi tersebut dinilai menjadi perhatian serius karena berpengaruh terhadap efisiensi pelayanan dan kinerja perusahaan daerah air minum.
Menurut Irawati, tingginya angka kehilangan air harus segera diatasi melalui pembenahan infrastruktur, peningkatan pengawasan jaringan distribusi, serta penguatan tata kelola perusahaan agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal.
Selain itu, berdasarkan target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kalimantan Tengah Tahun 2025–2029, cakupan akses air siap minum perpipaan di kawasan perkotaan ditargetkan mencapai 50 persen pada tahun 2029. Sementara saat ini tingkat pelayanan baru berada di kisaran 22 persen.
“Kondisi ini tentu membutuhkan percepatan pembangunan jaringan distribusi dan peningkatan kualitas pelayanan agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai,” ujarnya.
Irawati juga menyoroti hasil evaluasi dan audit yang menunjukkan masih terdapat kelemahan dalam tata kelola perusahaan dan penyusunan rencana bisnis di sejumlah Perumdam. Menurutnya, perencanaan yang matang menjadi kunci dalam mendukung keberhasilan program pengembangan layanan air bersih secara berkelanjutan.
Selain tantangan pelayanan dan tata kelola, perubahan iklim juga menjadi faktor yang harus diantisipasi sejak dini. Ancaman kekeringan, penurunan debit sumber air baku, hingga potensi banjir yang dapat merusak infrastruktur air minum memerlukan strategi jangka panjang yang adaptif.
“Perumdam harus mulai membangun sistem yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, mencari sumber air baku alternatif, menjaga kawasan daerah aliran sungai, dan memanfaatkan teknologi pengelolaan air yang ramah lingkungan,” tegasnya.
Melalui forum Mapamda tersebut, Irawati berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antar-Perumdam di Kalimantan Tengah dalam menyusun langkah-langkah strategis untuk mempercepat pemerataan layanan air bersih.
Menurutnya, keberhasilan program Swasembada Air 2029 tidak hanya berdampak pada peningkatan pelayanan publik, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, penurunan angka stunting, dan peningkatan kesejahteraan warga.
“Target Swasembada Air 2029 harus menjadi komitmen bersama. Mari jadikan musyawarah ini sebagai momentum menyusun langkah-langkah strategis agar layanan air minum yang berkualitas dapat dirasakan seluruh masyarakat Kalimantan Tengah, termasuk yang berada di wilayah pelosok,” pungkasnya.





















