PALANGKA RAYA – Dari bentang wilayah Kalimantan Tengah yang luas hingga pelosok terpencil, tantangan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi masih menjadi perhatian serius. Di tengah kondisi tersebut, Mikko Uriamapas Ludjen resmi menakhodai Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Kalimantan Tengah periode 2025–2028.
Pelantikan pengurus baru digelar di Aquarius Boutique Hotel, Sabtu (16/5/2026). Momentum tersebut bukan sekadar agenda organisasi, tetapi menjadi penegasan arah baru pelayanan kesehatan reproduksi di Kalimantan Tengah.
Di bawah kepemimpinan dr Mikko Uriamapas Ludjen, POGI Kalteng langsung menegaskan komitmennya memperkuat layanan kesehatan perempuan hingga ke wilayah pedalaman melalui semangat “Bergerak Serentak, Melayani Pelosok.”
Sebagai ketua baru, dr Mikko menegaskan profesi dokter spesialis obstetri dan ginekologi merupakan panggilan kemanusiaan yang harus hadir di tengah masyarakat tanpa memandang lokasi dan keterbatasan wilayah.
“Kami menjadi dokter spesialis bukan untuk menjadi eksklusif. Kami hadir untuk menyelamatkan perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan pelayanan kesehatan di Kalimantan Tengah cukup besar mengingat wilayah tersebut memiliki 13 kabupaten dan satu kota dengan kondisi geografis yang tidak mudah dijangkau. Distribusi dokter spesialis kandungan pun masih belum merata di seluruh daerah.
Bahkan, di beberapa wilayah masih terdapat daerah yang hanya memiliki satu dokter kandungan untuk melayani seluruh perempuan usia reproduksi.
Situasi tersebut dinilai membutuhkan soliditas organisasi dan kolaborasi bersama seluruh tenaga kesehatan agar pelayanan tetap berjalan maksimal.
POGI Kalteng juga menegaskan dukungan terhadap Gerakan SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia) yang menjadi program nasional POGI dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, stunting, hingga kanker serviks melalui pendekatan kesehatan perempuan sepanjang siklus kehidupan.
Berdasarkan data SUPAS 2026, angka kematian ibu di Indonesia masih berada di angka 144 per 100 ribu kelahiran hidup, sementara angka kematian bayi mencapai 14 per seribu kelahiran hidup.
Ketua Umum Pengurus Pusat POGI periode 2025–2028, Budi Wiweko, mengapresiasi komitmen POGI Kalimantan Tengah dalam memperkuat pelayanan kesehatan reproduksi di daerah.
Menurutnya, keberhasilan program nasional sangat bergantung pada kekuatan dan soliditas organisasi di tingkat daerah.
“Peran ketua cabang sangat strategis dalam memastikan program nasional benar-benar berjalan di lapangan,” ujarnya.
Melalui kepemimpinan baru ini, POGI Kalteng menargetkan peningkatan layanan kegawatdaruratan obstetri, penguatan sistem rujukan kesehatan ibu dan anak, hingga perluasan edukasi serta skrining kesehatan reproduksi di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.
























