SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menyiapkan ritual adat Tiwah sebagai salah satu agenda wisata budaya unggulan daerah. Tradisi sakral masyarakat Dayak Hindu Kaharingan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang mampu mendukung pelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Bupati Kotim, Halikinnor, mengatakan selama ini pelaksanaan Tiwah telah mendapatkan dukungan pemerintah daerah melalui bantuan hibah kepada kelompok masyarakat penyelenggara. Namun ke depan, pelaksanaannya akan diarahkan menjadi program resmi yang dikelola secara lebih terstruktur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bersama Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK).
“Selama ini memang pemerintah daerah membantu melalui hibah. Ke depan, Tiwah tidak lagi semata-mata bantuan kepada kelompok masyarakat, tetapi menjadi program yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” ujar Halikinnor, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, langkah tersebut bertujuan agar pelaksanaan Tiwah dapat dijadwalkan secara rutin dan masuk dalam kalender wisata budaya Kabupaten Kotawaringin Timur. Dengan adanya agenda yang terencana dan berkelanjutan, promosi budaya Dayak diharapkan semakin dikenal luas hingga mampu menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah.
Halikinnor menegaskan, koordinasi dengan Majelis Agama Hindu Kaharingan akan terus dilakukan guna memastikan pelaksanaan Tiwah dapat menjadi agenda tetap yang terorganisir dengan baik tanpa mengurangi nilai-nilai sakral yang terkandung di dalamnya.
“Saya minta supaya dilakukan koordinasi dengan Majelis Agama Hindu Kaharingan agar menjadi agenda tetap. Kalau bisa, harapan kita Tiwah menjadi salah satu destinasi wisata, sehingga orang datang ke sini bisa melihat langsung prosesi Tiwah,” katanya.
Ia menjelaskan, Tiwah merupakan ritual adat yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Dayak Hindu Kaharingan. Prosesi tersebut menjadi bagian dari penghormatan terakhir kepada leluhur serta memiliki nilai spiritual, sosial, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Karena itu, pelestarian Tiwah dinilai sangat penting sebagai upaya menjaga identitas budaya masyarakat Dayak sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Selain sebagai sarana pelestarian budaya, Halikinnor meyakini pengembangan Tiwah sebagai agenda wisata budaya akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
Kehadiran wisatawan yang datang untuk menyaksikan prosesi adat diyakini dapat menggerakkan berbagai sektor usaha lokal, mulai dari UMKM, kuliner, kerajinan tangan, jasa transportasi, hingga sektor perhotelan dan penginapan.
“Budaya daerah harus tetap dijaga. Kalau bisa sekaligus mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat tentu itu sangat baik,” tuturnya.
Lebih lanjut, Pemkab Kotim berharap pengembangan wisata budaya berbasis kearifan lokal dapat menjadi salah satu strategi dalam memperkuat sektor pariwisata daerah yang berkelanjutan.
Melalui konsep tersebut, budaya tidak hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga menjadi aset daerah yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di sisi lain, Halikinnor juga menanggapi usulan hibah yang diajukan organisasi Hindu Kaharingan terkait pelaksanaan kegiatan keagamaan dan adat. Menurutnya, pemerintah daerah akan mempelajari terlebih dahulu seluruh dokumen dan kebutuhan yang diajukan sebelum mengambil keputusan.
“Akan dipelajari dulu surat-menyuratnya. Mereka mengusulkan seluruh kebutuhan, namun prinsipnya kalau memungkinkan akan kita berikan, kalau tidak ya sebagian yang bisa kita hibahkan,” jelasnya.
Dengan dukungan pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat, ritual Tiwah diharapkan dapat berkembang menjadi agenda budaya unggulan Kabupaten Kotawaringin Timur yang tidak hanya menjaga kelestarian tradisi leluhur, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan sektor pariwisata dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.










































