PALANGKA RAYA – Tradisi memasak dan membagikan Bubur Asyura masih terus hidup di tengah masyarakat Kota Palangka Raya sebagai bagian dari peringatan 10 Muharram 1448 Hijriah. Momentum yang dikenal sebagai Hari Asyura itu dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi, menumbuhkan semangat gotong royong, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama melalui kegiatan berbagi kepada masyarakat dan anak-anak yatim piatu.
Tradisi tersebut digelar oleh Majelis Ta’lim dan Sholawat Al-Mawaddah di Musholla Mubasyiriin, Jalan Bangas Permai Induk, Komplek Bangas Permai, Kota Palangka Raya, Kamis (25/6/2026). Sejak pagi, suasana musholla dipenuhi para jamaah yang bergotong royong mempersiapkan Bubur Asyura menggunakan kuali berukuran besar.
Puluhan jamaah, yang didominasi kaum ibu, tampak saling berbagi tugas. Sebagian membersihkan dan memotong bahan-bahan, sebagian lainnya mengaduk bubur yang dimasak secara perlahan agar menghasilkan cita rasa yang khas. Di sudut lain, para jamaah menyiapkan wadah untuk mengemas bubur yang nantinya dibagikan kepada masyarakat.

Semangat kebersamaan begitu terasa sepanjang proses memasak. Tanpa mengenal lelah, seluruh jamaah bekerja secara sukarela dengan satu tujuan, yakni menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat melalui tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Setelah Bubur Asyura selesai dimasak, panitia mengumumkan melalui pengeras suara musholla bahwa masyarakat dipersilakan datang untuk menikmati bubur yang telah disiapkan. Tidak berselang lama, warga dari sekitar Komplek Bangas Permai mulai berdatangan ke Musholla Mubasyiriin.
Mereka datang secara bergantian untuk mengambil Bubur Asyura yang dibagikan secara gratis. Suasana penuh keakraban terlihat ketika masyarakat saling menyapa sembari mengantre dengan tertib. Tradisi tersebut menjadi salah satu momen yang selalu dinantikan warga setiap datangnya 10 Muharram.
Usai pembagian kepada masyarakat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan Bubur Asyura kepada anak-anak yatim piatu yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh panitia. Pada kesempatan tersebut, para pengurus majelis juga menyerahkan santunan sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang kepada mereka.
Senyum bahagia tampak menghiasi wajah anak-anak yatim saat menerima Bubur Asyura dan santunan. Para jamaah turut mendoakan agar mereka diberikan kesehatan, kemudahan dalam menuntut ilmu, serta tumbuh menjadi generasi yang saleh dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

Pimpinan Majelis Ta’lim dan Sholawat Al-Mawaddah, Heldayani, S.Pd.I., mengatakan tradisi Bubur Asyura bukan sekadar kegiatan memasak dan berbagi makanan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus menanamkan nilai kepedulian sosial kepada sesama.
“Momentum 10 Muharram mengajarkan kita untuk memperbanyak amal kebaikan. Melalui pembagian Bubur Asyura dan santunan kepada anak-anak yatim, kami ingin mengajak masyarakat untuk terus memperkuat kepedulian sosial serta menjaga tradisi yang telah diwariskan para ulama dan orang-orang terdahulu,” ujar Heldayani.
Heldayani menambahkan, seluruh rangkaian kegiatan terlaksana berkat kekompakan para jamaah yang sejak awal mempersiapkan seluruh kebutuhan secara bersama-sama.
“Kami bersyukur seluruh jamaah ikut berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang membantu memasak, menyiapkan bahan, mengemas hingga membagikan bubur kepada masyarakat. Semoga kegiatan sederhana ini membawa keberkahan, mempererat tali silaturahmi, serta menjadi amal jariyah bagi seluruh jamaah yang terlibat,” tambah Heldayani.
Sementara itu, salah seorang operator Majelis Ta’lim dan Sholawat Al-Mawaddah, Agus Asianto, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap tradisi Bubur Asyura selalu tinggi setiap tahunnya. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi agenda rutin majelis, tetapi juga telah menjadi bagian dari kebersamaan warga sekitar.
“Setelah diumumkan dari musholla, masyarakat langsung berdatangan untuk mengambil Bubur Asyura. Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar. Kami berharap Bubur Asyura yang dibagikan hari ini dapat memberikan manfaat, menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat, sekaligus menjadi ladang amal bagi seluruh jamaah yang telah ikut bergotong royong menyukseskan kegiatan ini,” tutur Agus Asianto saat ditemui Tim Media di sela-sela kegiatan.
Menurut Agus Asianto, semangat kebersamaan yang tercipta setiap pelaksanaan Bubur Asyura menjadi bukti bahwa nilai gotong royong masih tumbuh kuat di tengah masyarakat. Tidak hanya pengurus majelis, warga sekitar juga ikut memberikan dukungan sehingga kegiatan dapat berjalan dengan baik dari awal hingga selesai.
Tradisi memasak Bubur Asyura pada 10 Muharram telah lama dikenal di berbagai daerah di Indonesia sebagai simbol rasa syukur, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Di Palangka Raya, tradisi tersebut tidak hanya menjadi warisan budaya Islam yang terus dilestarikan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah, berbagi rezeki kepada masyarakat, serta menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim piatu.

Sementara itu, nampak Agus asianto bersama Mahmud, yang dikenal masyarakat dan akrab dipanggil Guru Keong Al Zaituni, turut menghadiri dan memeriahkan kegiatan pembagian Bubur Asyura. Menurutnya, tradisi yang dilaksanakan setiap 10 Muharram tersebut memiliki nilai ibadah sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah, tradisi Bubur Asyura seperti ini sangat baik untuk terus dilestarikan. Selain menjadi bentuk syiar Islam, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya berbagi rezeki, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama, khususnya anak-anak yatim. Semoga kegiatan seperti ini terus istiqamah dilaksanakan dan semakin banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi,” ujar Mahmud.
Mahmud berharap semangat gotong royong dan kebersamaan yang tercermin dalam pelaksanaan Bubur Asyura dapat terus diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya menjaga warisan para ulama terdahulu, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kebahagiaan akan semakin terasa ketika umat Islam saling berbagi dan memperkuat persaudaraan.Sementara itu, Mahmud, yang dikenal masyarakat sebagai Guru Keong, turut menghadiri dan memeriahkan kegiatan pembagian Bubur Asyura. Menurutnya, tradisi yang dilaksanakan setiap 10 Muharram tersebut memiliki nilai ibadah sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah, tradisi Bubur Asyura seperti ini sangat baik untuk terus dilestarikan. Selain menjadi bentuk syiar Islam, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya berbagi rezeki, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama, khususnya anak-anak yatim. Semoga kegiatan seperti ini terus istiqamah dilaksanakan dan semakin banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi,” ujar Mahmud.
Mahmud berharap semangat gotong royong dan kebersamaan yang tercermin dalam pelaksanaan Bubur Asyura dapat terus diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya menjaga warisan para ulama terdahulu, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kebahagiaan akan semakin terasa ketika umat Islam saling berbagi dan memperkuat persaudaraan.
Melalui kegiatan sederhana yang sarat makna tersebut, Majelis Ta’lim dan Sholawat Al-Mawaddah berharap semangat berbagi, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama terus tumbuh di tengah masyarakat. Harapannya, nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan Hari Asyura tidak hanya dikenang sebagai tradisi tahunan, tetapi juga menjadi inspirasi untuk terus menebarkan kebaikan dan mempererat persaudaraan di kehidupan sehari-hari.























