PALANGKA RAYA – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah SPBU Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir turut berdampak terhadap pendapatan para pengemudi ojek daring (ojol). Banyak driver terpaksa kehilangan waktu kerja karena harus mengantre BBM selama berjam-jam.
Salah seorang driver ojol, Fahmi, mengatakan kondisi antrean BBM kali ini menjadi yang terparah selama dua tahun dirinya bekerja sebagai pengemudi ojek online di Kota Palangka Raya.
“Sudah dua tahun jadi ojol, baru kali ini antrean BBM sangat parah,” ujarnya, Sabtu malam (9/5/2026).
Menurut Fahmi, pada hari pertama antrean panjang terjadi, banyak driver terpaksa menghentikan sementara aktivitas menarik order karena kesulitan mendapatkan BBM untuk kendaraan mereka.
“Kalau hari pertama kemarin jelas berdampak. Mau narik minyaknya enggak ada,” katanya.
Ia menjelaskan sebenarnya jumlah pesanan dari pelanggan tetap ramai seperti biasa. Namun sebagian besar waktu para driver habis di antrean SPBU sehingga tidak dapat menerima order secara maksimal.
“Orderannya tetap jalan, cuma kita enggak dapat minyak tadi. Waktunya habis buat ngantre minyak,” ucapnya.
Akibat kondisi tersebut, pendapatan Fahmi mengalami penurunan drastis. Dalam kondisi normal, dirinya mampu menyelesaikan sekitar 20 order per hari dengan penghasilan berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Namun saat antrean BBM memuncak, pendapatannya turun hingga setengahnya.
“Kalau kemarin paling dapat Rp100 ribu. Bahkan sempat cuma Rp60 ribu karena setengah hari habis antre,” ungkapnya.
Meski demikian, Fahmi mengaku kondisi antrean BBM kini mulai berangsur membaik dibanding beberapa hari sebelumnya.
“Sekarang sudah normal. Hari ini sekali aja antre, paling setengah jam,” katanya.
Fahmi yang memiliki dua anak mengaku penurunan penghasilan sempat memengaruhi kebutuhan rumah tangga. Namun kondisi tersebut masih dapat terbantu dari pekerjaan lain yang dimiliki keluarganya.
Hal serupa juga dirasakan Ahmad Arifin, seorang mahasiswa yang bekerja sambilan sebagai driver ojol. Ia mengatakan krisis BBM sangat memengaruhi aktivitas para pengemudi karena bahan bakar merupakan kebutuhan utama operasional kendaraan.
“Yang pastinya sangat berdampak. BBM adalah sumber utama mobilitas kami untuk mengantar makanan maupun penumpang,” katanya.
Menurut Arifin, jumlah order justru mengalami peningkatan karena mobilitas masyarakat ikut terganggu akibat antrean BBM. Namun para driver tetap kesulitan bekerja karena kendaraan mereka kehabisan bahan bakar.
“Orderan ada lonjakan, tapi kami terhambat oleh krisis BBM tersebut,” ujarnya.
Ia menyebut driver yang memiliki cadangan BBM lebih diuntungkan dibanding mereka yang tidak sempat melakukan persiapan sebelumnya.
“Ada driver yang punya cadangan bahan bakar, mereka sangat diuntungkan. Tapi bagi kami yang enggak ada persiapan sangat dirugikan,” katanya.
Biasanya Arifin mampu menyelesaikan sekitar 12 trip dalam sehari. Namun saat antrean BBM terjadi, jumlah perjalanan yang bisa diselesaikan turun hingga separuhnya.
“Biasanya 12 trip, kemarin cuma empat sampai enam trip karena lamanya antrean. Pendapatan untuk enam trip itu sekitar Rp50 ribuan. Jadi berkurang setengah,” ujarnya.
Tak hanya berdampak pada penghasilan, antrean BBM juga disebut sempat mengganggu aktivitas kuliahnya karena waktu banyak tersita untuk mencari bahan bakar.
Meski begitu, Arifin menilai kondisi distribusi BBM di Kota Palangka Raya mulai berangsur normal sehingga para pengemudi ojol dapat kembali bekerja lebih optimal.
“Iya, kuliah juga terganggu. Sekarang lumayan cukup stabil,” tutupnya.

























