PALANGKA RAYA – Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah mulai meningkat. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah mengintensifkan patroli udara dan patroli darat sebagai langkah deteksi dini guna mencegah meluasnya kebakaran di berbagai wilayah.

Berdasarkan data harian Pos Komando Penanganan Darurat Bencana (Posko PDB) Karhutla BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah per Selasa (21/7/2026) pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 117 hotspot tersebar di kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Pada periode yang sama juga terjadi 30 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 27,09 hektare.
Sebaran hotspot di Kalimantan Tengah meliputi:
- Kabupaten Kapuas : 22 titik
- Kabupaten Lamandau : 21 titik
- Kabupaten Pulang Pisau : 17 titik
- Kabupaten Sukamara : 15 titik
- Kabupaten Kotawaringin Timur : 10 titik
- Kabupaten Barito Selatan : 8 titik
- Kabupaten Gunung Mas : 6 titik
- Kabupaten Kotawaringin Barat : 5 titik
- Kabupaten Seruyan : 5 titik
- Kota Palangka Raya : 5 titik
- Kabupaten Barito Utara : 2 titik
- Kabupaten Katingan : 1 titik
Sementara itu, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur tidak terpantau memiliki hotspot pada periode tersebut.
Dari sisi kejadian karhutla, Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 12 kasus dengan luas lahan terbakar mencapai 7,09 hektare. Disusul Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak empat kejadian seluas 5,25 hektare, Kabupaten Barito Selatan tiga kejadian seluas 7,03 hektare, Kabupaten Murung Raya tiga kejadian seluas 1,26 hektare, sedangkan Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Seruyan, dan Kabupaten Sukamara masing-masing mencatat dua kejadian. Kabupaten Barito Utara dan Kabupaten Lamandau masing-masing mengalami satu kejadian.
Untuk mendukung pengendalian karhutla, BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah mengerahkan empat unit helikopter guna melaksanakan patroli udara di wilayah rawan kebakaran. Selain itu, sebanyak 238 personel gabungan yang terdiri atas BPB-PK, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD kabupaten/kota, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta unsur terkait lainnya diterjunkan dalam patroli darat dan penanganan di lapangan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan patroli terpadu terus diperkuat sebagai upaya deteksi dini untuk menekan potensi meluasnya kebakaran selama musim kemarau.
“Patroli terpadu kami lakukan setiap hari untuk memantau wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi terjadi kebakaran. Begitu ditemukan hotspot atau indikasi titik api, tim di lapangan langsung melakukan pengecekan dan penanganan agar api tidak meluas,” ujarnya.
Menurut Ahmad Toyib, kecepatan respons menjadi faktor penting dalam pengendalian karhutla. Semakin cepat titik api ditemukan, maka semakin besar peluang kebakaran dapat dipadamkan sebelum meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama di kawasan yang rawan terbakar.
“Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pencegahan karhutla. Apabila menemukan titik api maupun kepulan asap, segera laporkan kepada petugas agar dapat segera ditindaklanjuti. Pencegahan tetap menjadi langkah yang paling efektif dalam menghadapi musim kemarau,” katanya.
BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat koordinasi bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kabupaten/kota, relawan, dan masyarakat untuk mengoptimalkan upaya pencegahan serta penanganan karhutla. Sinergi seluruh pihak diharapkan mampu menekan potensi kebakaran sehingga dampak kabut asap selama musim kemarau tahun 2026 dapat diminimalkan.
























