Karhutla dan Kekeringan Palangka Raya Kuras Rp500 Juta, Status Tanggap Darurat Diperpanjang

Siap diputar
🔊 DENGARKAN BERITA INI

PALANGKA RAYA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan () di mulai berdampak pada anggaran daerah. Hingga Senin (10/8/2026), sekitar Rp500 juta telah direalisasikan untuk mendukung berbagai operasi penanganan di lapangan.

Di tengah kondisi yang masih membutuhkan penanganan, Pemerintah kembali memperpanjang status tanggap darurat. Namun, cakupan status tersebut kini diperluas menjadi Tanggap Darurat dan Kekeringan, terhitung mulai 11 Agustus hingga 8 September 2026.

img 20260810 wa0112 1 2048x1153 1
Wali , , saat memberikan keterangan terkait penanganan dan kondisi kekeringan di Kota Palangka Raya, Senin (10/8/2026).

Wali Kota Palangka Raya, , mengatakan anggaran yang telah digunakan untuk penanganan karhutla bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT) serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Badan Penanggulangan Bencana Daerah () Kota Palangka Raya.

“Untuk saat ini kalau tidak salah sekitar Rp500 jutaan yang sudah terpakai. Tapi nanti dicek lagi secara rinci dengan dinas teknis. Selain itu, kita juga sudah menyiapkan dana cadangan yang bersumber dari BTT,” kata Fairid, Senin (10/8/2026).

Realisasi tersebut masih berpotensi bertambah seiring dengan diperpanjangnya masa tanggap darurat. Pemerintah Kota Palangka Raya telah menyiapkan dana cadangan untuk mengantisipasi kebutuhan operasi apabila karhutla dan kondisi kekeringan terus berlangsung hingga masa tanggap darurat berakhir.

Perpanjangan status tersebut diputuskan setelah dilakukan rapat bersama tim gabungan yang melibatkan pemerintah daerah, , Polri, serta unsur terkait lainnya. Perubahan cakupan dari tanggap darurat karhutla menjadi karhutla dan kekeringan menunjukkan bahwa kondisi di lapangan tidak hanya berkaitan dengan penanganan titik api, tetapi juga mulai menyentuh persoalan ketersediaan air.

Fairid menjelaskan, kondisi kekeringan membuat sumber air yang dibutuhkan untuk mendukung operasi pemadaman dan pembasahan lahan semakin sulit diperoleh. Keterbatasan air menjadi tantangan tambahan bagi petugas yang masih melakukan penanganan di sejumlah lokasi.

“Karena air sudah makin susah. Sekarang kita sudah masuk tahap kekeringan. Tantangannya bukan hanya pemadaman api, tetapi juga bagaimana mendapatkan sumber air yang lebih mudah untuk mendukung operasi di lapangan,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat strategi penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api. Pembasahan lahan dan pencarian alternatif sumber air juga menjadi bagian penting dalam upaya mencegah munculnya kembali api di wilayah yang telah terdampak.

Pemerintah Kota Palangka Raya memastikan operasi pemadaman dan pembasahan tetap dilakukan secara berkelanjutan. Bersamaan dengan itu, pemerintah daerah terus mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan sumber air bagi petugas di lapangan.

Dukungan pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana () juga masih diterima untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Kota Palangka Raya.

“Kita tetap melakukan pemadaman dan pembasahan. Sambil itu, kita mencari solusi terkait sumber air. Bantuan dari dan pusat masih terus ada,” kata Fairid.

Dalam pelaksanaan operasi di lapangan, penanganan melibatkan unsur gabungan dari berbagai pihak, mulai dari , -Polri, relawan, hingga sejumlah instansi yang diperbantukan untuk mendukung upaya penanganan karhutla di Palangka Raya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Palangka Raya belum mengambil langkah untuk melibatkan aparatur sipil negara (ASN) dalam kegiatan pemadaman secara langsung. Kebutuhan personel masih terus dievaluasi dengan mempertimbangkan dukungan yang tersedia dari berbagai unsur.

Fairid mengatakan, jumlah personel yang saat ini terlibat masih dinilai mencukupi karena mendapat dukungan dari , Polri, relawan, , dan instansi terkait lainnya. Namun, kemungkinan penambahan personel tetap terbuka apabila kondisi di lapangan membutuhkan.

“Untuk saat ini belum sampai melibatkan ASN. Karena kita masih banyak dibantu , Polri, relawan, pasukan , dan instansi terkait lainnya. Tapi setiap hari kita evaluasi. Kalau memang diperlukan ke depan, tentu akan kita pertimbangkan,” pungkasnya.

Dengan diperpanjangnya status Tanggap Darurat Karhutla dan Kekeringan hingga 8 September 2026, Pemerintah Kota Palangka Raya kini menghadapi dua tantangan yang saling berkaitan, yakni mengendalikan kebakaran sekaligus mengatasi keterbatasan sumber air.

Penanganan karhutla juga diperkirakan masih membutuhkan dukungan anggaran selama kondisi di lapangan belum sepenuhnya terkendali. Realisasi sekitar Rp500 juta yang telah digunakan hingga 10 Agustus 2026 belum menjadi angka akhir apabila operasi pemadaman, pembasahan, dan penanganan kekeringan terus berlanjut.

Baca juga »  Fairid Naparin Ajak Masyarakat Palangka Raya Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
PlaystoreKALTENGPLUSupdate11b
ChatGPT Image 23 Mei 2026, 22.11.26
17Juni2026-HARIJADIKOTAPALANGKARAYA4
ChatGPT Image 10 Mei 2026, 14.46.47
ChatGPT Image 17 Mei 2026, 04.41.16
ChatGPT Image 19 Mei 2026, 21.53.06
Back to top button
Konten ini dilindungi hak cipta :
PORTAL BERITA MEDIA DIGITAL
KALTENG PLUS
📢 LAPOR PAK 📰 IKLAN & PUBLIKASI 💬 CHAT ADMIN
×
⭐⭐⭐⭐⭐
Suka menggunakan Aplikasi KALTENG PLUS?
Jika KALTENG PLUS membantu Anda mendapatkan berita Kalimantan Tengah setiap hari, luangkan waktu sebentar untuk memberikan ulasan di Google Play Store.
INPUT ID ANGGOTA
Masukkan 4 Digit ID Anggota
SCAN KARTU ANGGOTA
Menyiapkan Scanner...
Arahkan Kamera ke area
QR Kartu Anggota
LIVE KALTENG PLUS
Memuat Judul...
Memuat Siaran Langsung...
KATEGORI BERITA
KALTENG PLUS
HOME
TERBARU
TONTON
🔍
CARI
📁
KATEGORI
ℹ️
INFO

KALTENG PLUS - LAPOR PAK 2
CALLCENTER110POLRI
ChatGPT Image 5 Mei 2026, 13.17.19
WhatsAppImage2026-06-03at183925
previous arrow
next arrow