PALANGKA RAYA – Pertunjukan tari kontemporer bertajuk Lapan Lapin menjadi penutup rangkaian Central Kalimantan Arts Summit di Panggung Terbuka UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, Jumat (24/7/2026) malam. Pementasan tersebut menjadi klimaks dari rangkaian agenda seni yang telah berlangsung sejak pertengahan Juli sekaligus menampilkan karya hasil riset yang didukung Dana Abadi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan.
Karya tari tersebut dipersembahkan sebagai hasil Program Dana Abadi Kebudayaan melalui skema Penciptaan Karya Kreatif Inovatif. Selain menjadi penampilan penutup, pementasan ini juga merepresentasikan hasil eksplorasi seni yang berpijak pada kekayaan budaya lokal Kalimantan Tengah.
Direktur Central Kalimantan Choreographers Meeting (CKCM) 2026, Budi Jaya Habibi, mengatakan Lapan Lapin merupakan karya baru yang lahir dari proses riset lapangan dan pengembangan kreatif yang dilakukan bersama tim.
“Pada malam ini kami menampilkan karya terbaru hasil riset yang juga merupakan bagian dari Program Dana Abadi Kebudayaan melalui skema Penciptaan Karya Kreatif Inovatif. Karya tersebut berjudul Lapan Lapin,” ujarnya.
Budi Jaya Habibi menjelaskan proses penciptaan karya diawali dengan penelitian di Desa Padang, Kabupaten Sukamara. Bersama seorang komposer, ia menempuh perjalanan sekitar 12 hingga 14 jam untuk menggali kesenian Jepin yang berkembang di daerah tersebut.
Di lokasi tersebut, tim bertemu dengan dua maestro Jepin, yakni Sarwani dan Misrani. Hasil riset kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya tari kontemporer yang tetap berakar pada nilai budaya lokal, namun disajikan dengan pendekatan yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
“Kami melakukan riset di Kabupaten Sukamara, tepatnya di Desa Padang. Di sana kami bertemu dengan dua maestro Jepin, yaitu Pak Sarwani dan Pak Misrani. Apa yang ditampilkan malam ini merupakan refleksi dari kesenian tersebut yang kami hadirkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini,” jelasnya.
Menurut Budi Jaya Habibi, judul Lapan Lapin dipilih karena memiliki makna kerinduan. Tema tersebut menjadi benang merah pertunjukan yang menggambarkan pengalaman emosional manusia melalui bahasa gerak tari.
“Lapan Lapin merupakan ungkapan yang bermakna kerinduan. Kerinduan adalah bahasa yang dimiliki setiap manusia dan menjadi bagian dari perjalanan hidup serta perubahan yang dialami setiap orang,” katanya.
Selama kurang lebih 45 menit, para penari membawakan pertunjukan dengan interpretasi rasa rindu yang berbeda-beda. Konsep tersebut sejalan dengan filosofi tari Jepin di Sukamara yang sejak awal mengangkat tema kerinduan sebagai bagian dari kehidupan manusia.
“Pada hakikatnya, tari Jepin yang hidup di Sukamara memang berbicara tentang kerinduan yang dimiliki setiap manusia. Selama kurang lebih 45 menit pertunjukan berlangsung, seluruh penampil membawa rasa rindu mereka masing-masing ke atas panggung,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, Wildae D. Binti, mengatakan pertunjukan Lapan Lapin menjadi penutup seluruh rangkaian Central Kalimantan Arts Summit yang telah dimulai sejak 15 Juli 2026.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi:
- Kemah Tari.
- Kotawaringin Actress.
- Pementasan karya Central Kalimantan Choreographers Meeting (CKCM).
- Pertunjukan tari kontemporer Lapan Lapin sebagai penutup.
“Pertunjukan Lapan Lapin malam ini merupakan penampilan penutup dalam rangkaian Central Kalimantan Arts Summit. Kegiatan ini telah dimulai sejak 15 Juli melalui Kemah Tari, kemudian Kotawaringin Actress, dilanjutkan pementasan karya CKCM, hingga akhirnya ditutup dengan pertunjukan malam ini,” ujarnya.
Wildae D. Binti menilai penyelenggaraan kegiatan tersebut menjadi momentum membanggakan karena mendapat dukungan pemerintah pusat melalui Dana Abadi Kebudayaan dan Manajemen Talenta Nasional Kementerian Kebudayaan. Dukungan tersebut membuka peluang lebih luas bagi para seniman daerah untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi seni budaya Kalimantan Tengah.
Ia juga menyampaikan bahwa kesempatan memperoleh fasilitasi melalui Dana Abadi Kebudayaan masih terbuka bagi para pelaku seni di Kalimantan Tengah, selama memenuhi persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan.
“Para pelaku seni di Kalteng dipersilakan mengajukan permohonan untuk memperoleh fasilitasi Dana Abadi Kebudayaan, tentunya dengan memenuhi persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan,” tutupnya.
























