PALANGKA RAYA – Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Kalimantan Tengah meminta PLN memperbaiki mekanisme penyampaian informasi terkait pemadaman listrik, khususnya kepada pelaku usaha peternakan ayam modern yang bergantung pada pasokan listrik untuk menjaga kelangsungan operasional kandang.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Kalimantan Tengah, Andi Bustan, mengatakan peternak memahami bahwa pemadaman listrik dapat dilakukan untuk kepentingan pemeliharaan maupun perbaikan jaringan. Namun, menurutnya, informasi mengenai jadwal pemadaman seharusnya disampaikan secara langsung kepada pemilik usaha paling tidak dua hingga tiga hari sebelum pelaksanaan.

“Sejumlah kawasan peternakan seperti di Kilometer 21 arah Sampit dan Kilometer 8 arah Tumbang Nusa memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan listrik. Jika listrik padam secara mendadak, peternak tidak memiliki cukup waktu untuk menyiapkan genset maupun pasokan solar yang hanya tersedia di SPBU dalam kota,” ujar Andi Bustan, Rabu (29/7/2026).
Menurut Andi Bustan, penyampaian informasi melalui media umum dinilai belum sepenuhnya efektif karena tidak semua pekerja kandang memiliki akses komunikasi yang memadai, terutama di kawasan peternakan yang berada jauh dari pusat kota.
Ia menjelaskan bahwa peternakan dengan sistem kandang tertutup atau closed house sangat bergantung pada listrik untuk mengoperasikan sistem pendingin dan sirkulasi udara. Apabila terjadi pemadaman listrik secara mendadak, kondisi di dalam kandang dapat berubah dalam waktu singkat dan berpotensi menyebabkan kematian ayam dalam jumlah besar.
“Pemadaman selama lima menit saja dapat mengakibatkan kematian hingga separuh populasi ayam dalam satu kandang tertutup yang rata-rata berisi sekitar 40 ribu ekor,” katanya.
Andi Bustan memperkirakan apabila sekitar 20 ribu ekor ayam mati dengan asumsi keuntungan peternak sebesar Rp6.000 per ekor, maka potensi kerugian dapat mencapai sekitar Rp120 juta hanya dalam hitungan menit.

Karena itu, Pinsar Kalimantan Tengah berharap PLN dapat melakukan pemetaan terhadap lokasi usaha yang memiliki tingkat risiko tinggi akibat pemadaman listrik. Selain itu, penyampaian informasi diharapkan tidak hanya melalui media massa atau media sosial, tetapi juga dilakukan secara langsung kepada pemilik usaha, baik melalui surat resmi maupun kunjungan petugas.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berdampak pada pelaku usaha peternakan, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan pasokan ayam di Palangka Raya dan sekitarnya yang mencapai sekitar 23 ribu ekor setiap hari. Apabila kematian ayam terjadi dalam jumlah besar, pasokan ke pasar berpotensi menurun sehingga dapat memengaruhi harga di tingkat konsumen.
Sementara itu, dalam aksi demonstrasi bertajuk Stop Pemadaman Listrik di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya, perwakilan peternak Kota Palangka Raya, Satrio, menyampaikan bahwa aksi membawa ratusan bangkai ayam merupakan bentuk protes atas persoalan pasokan listrik yang dinilai belum stabil.

“Untuk sistem kandang modern atau closed house yang kini digunakan, peternak sangat bergantung pada pasokan listrik untuk mengoperasikan blower sebagai penyedia sirkulasi udara bagi ternak,” ujar Satrio.
Ia menjelaskan bahwa meskipun peternak telah menyiapkan genset sebagai sumber listrik cadangan, peralatan tersebut hanya digunakan dalam kondisi darurat. Ketidakpastian jadwal maupun lamanya pemadaman menyebabkan genset bekerja lebih lama dari kapasitas normal sehingga meningkatkan risiko kerusakan.
Menurut Satrio, apabila genset mengalami gangguan, suplai oksigen di dalam kandang akan terhenti dan dapat menyebabkan ribuan ayam mati dalam waktu singkat akibat kekurangan udara.
Selain itu, peternak juga menghadapi kendala dalam memperoleh bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan genset karena adanya pembatasan pembelian di SPBU. Kondisi tersebut dinilai menambah beban biaya operasional di tengah kerugian yang terus dialami akibat pemadaman listrik dalam beberapa bulan terakhir.
Melalui aksi tersebut, para peternak berharap PLN dapat memberikan kepastian jadwal pemadaman serta meningkatkan keandalan pasokan listrik agar aktivitas usaha peternakan dapat berjalan dengan lebih aman dan tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.
























