PALANGKA RAYA – Parade Tradisi Lisan dan Parade Tari Daerah kembali menjadi salah satu penampilan paling menyita perhatian dalam gelaran Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 di Kalimantan Tengah. Dua cabang budaya tersebut dinilai memiliki daya tarik kuat karena tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga sarat nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya masyarakat Dayak.
Pelaksanaan parade budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah itu menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional dari kabupaten dan kota se-Kalteng dengan balutan nuansa adat yang kental.
Tokoh budaya Kalimantan Tengah, Guntur Talajan yang juga bertindak sebagai dewan juri mengatakan parade tradisi lisan dan tari daerah selalu menjadi cabang unggulan yang paling dinantikan masyarakat dalam setiap pelaksanaan FBIM.
Menurutnya, parade tradisi lisan memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi sastra tutur masyarakat Dayak agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi.
“Tradisi lisan bukan hanya hiburan, tetapi juga media penyampaian pesan moral, sejarah, hingga nilai kehidupan masyarakat Dayak dari generasi ke generasi,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Dalam parade tersebut, peserta menampilkan beragam bentuk seni bertutur khas Dayak seperti Karungut, Balian, hingga syair-syair kuno yang dipadukan dengan iringan alat musik tradisional.
Setiap penampilan menghadirkan cerita, nasihat kehidupan, hingga pesan adat yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Dayak.
Guntur menilai, keberadaan tradisi lisan sangat penting karena menjadi bagian dari identitas budaya yang tidak hanya menyimpan nilai seni, tetapi juga pengetahuan dan sejarah masyarakat lokal.
Ia berharap generasi muda semakin tertarik mempelajari bahasa daerah serta memahami pentingnya menjaga warisan budaya leluhur.
Selain parade tradisi lisan, parade tari daerah juga menjadi pusat perhatian pengunjung FBIM 2026.
Berbagai kontingen dari kabupaten dan kota menampilkan tarian khas daerah dengan balutan busana adat serta iringan musik tradisional yang memukau penonton.
Beragam koreografi kreasi baru ditampilkan tanpa meninggalkan unsur budaya dan tradisi asli masyarakat Kalimantan Tengah.
Tarian yang dibawakan peserta tidak hanya menonjolkan keindahan gerak, tetapi juga mengangkat filosofi kehidupan masyarakat Dayak, mitologi, hingga aktivitas keseharian masyarakat di daerah masing-masing.
Menurut Guntur, parade tari daerah menjadi ruang kreativitas bagi para seniman untuk terus mengembangkan seni pertunjukan berbasis budaya lokal.
“Parade tari daerah menjadi wadah kreativitas para seniman dalam mengembangkan seni pertunjukan yang tetap berpijak pada identitas budaya lokal,” jelasnya.
Ia menambahkan, perpaduan unsur tradisional dan sentuhan modern dalam pertunjukan tari menunjukkan budaya Dayak mampu berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati diri.
Melalui Parade Tradisi Lisan dan Parade Tari Daerah, FBIM 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai ajang pelestarian budaya terbesar di Kalimantan Tengah sekaligus ruang ekspresi seni yang terus diminati generasi muda.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berharap pelaksanaan FBIM dapat terus menjadi media memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Dayak kepada masyarakat luas.























