PALANGKA RAYA – Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Arif M Norkim, mendorong pelaksanaan edukasi kesiapsiagaan bencana terus digencarkan di lingkungan sekolah sebagai upaya membentuk budaya sadar bencana sejak usia dini.
Menurut Arif, pelajar merupakan salah satu kelompok yang rentan saat terjadi bencana. Karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman mengenai langkah-langkah penyelamatan diri, pengenalan jalur evakuasi, hingga cara menghadapi situasi darurat secara tepat dan aman.
“Kegiatan edukasi kesiapsiagaan bencana sangat penting karena dapat memberikan pengetahuan dasar kepada anak-anak mengenai cara menyelamatkan diri ketika menghadapi kondisi darurat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembelajaran mengenai mitigasi bencana akan lebih efektif apabila dilakukan melalui metode yang interaktif dan mudah dipahami. Selain penyampaian materi, simulasi langsung dinilai menjadi sarana yang efektif untuk melatih kesiapan siswa dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana.
Melalui simulasi, peserta didik dapat memahami prosedur evakuasi, mengenali titik kumpul, serta mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat di lingkungan sekolah.
“Dengan adanya latihan dan simulasi secara langsung, siswa akan lebih siap menghadapi situasi darurat dan tidak mudah panik ketika bencana terjadi,” katanya.
Arif menilai program edukasi kebencanaan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dan tidak hanya terbatas pada sekolah tertentu. Ia berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke seluruh sekolah di Kota Palangka Raya agar manfaatnya dirasakan lebih banyak peserta didik.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya dukungan dari pihak sekolah dalam menyediakan sarana pendukung keselamatan, seperti jalur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang aman, serta papan petunjuk yang mudah dipahami oleh siswa dan tenaga pendidik.
Menurutnya, kesiapan infrastruktur sekolah menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan program mitigasi bencana di lingkungan pendidikan.
“Sekolah harus memastikan jalur evakuasi tersedia dan mudah diakses. Dengan begitu, proses penyelamatan dapat berjalan lebih cepat dan terarah apabila terjadi keadaan darurat,” tegasnya.
Arif berharap melalui edukasi yang berkelanjutan, kesadaran dan kesiapan menghadapi bencana dapat tertanam sejak dini pada generasi muda. Langkah tersebut dinilai penting untuk meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan ketika terjadi bencana di masa mendatang.
“Pembentukan budaya sadar bencana harus dimulai sejak usia sekolah. Dengan pengetahuan yang cukup, anak-anak akan lebih siap melindungi diri sendiri maupun membantu orang lain saat menghadapi situasi darurat,” pungkasnya.










































