SAMPIT – Puluhan hingga ratusan ulat bulu menyerbu permukiman warga di Gang Reformasi, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur. Serangan hama yang telah berlangsung hampir 10 hari itu membuat aktivitas masyarakat terganggu karena ulat tidak hanya memenuhi halaman rumah, tetapi juga masuk hingga ke dalam bangunan.
Warga mengaku ulat bulu ditemukan di berbagai sudut rumah, mulai dari dinding, lantai, dapur, hingga kamar tidur. Kondisi tersebut membuat penghuni rumah merasa tidak nyaman, bahkan kesulitan beristirahat karena hama terus bermunculan, terutama pada malam hari.
Salah seorang warga, Nor Hidayati, mengatakan populasi ulat bulu terus bertambah dari hari ke hari. Menurutnya, keberadaan hama tersebut kini sudah memasuki area dalam rumah, termasuk tempat tidur keluarga.
“Masuk rumah tidak bisa tenang karena ulatnya juga masuk sampai ke ranjang. Mau tidur pun susah,” ujarnya.
Nor Hidayati memperlihatkan bak penampungan air yang dipenuhi ulat bulu. Selain itu, hama tersebut juga terlihat menempel di bagian luar maupun dalam dinding rumah sehingga penghuni harus berulang kali membersihkannya.
Ia mengungkapkan kondisi menjadi semakin mengganggu pada malam hari. Tidak jarang ulat ditemukan berada di pakaian maupun tempat tidur, sementara bulu halus yang beterbangan menimbulkan rasa gatal ketika mengenai kulit.
“Kalau malam saat tidur, tiba-tiba ulat sudah ada di baju atau di tempat tidur. Bulunya kalau kena kulit langsung gatal,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Jamilah. Ia mengaku baru pertama kali mengalami serangan ulat bulu dalam jumlah sebanyak itu, meskipun wilayah tersebut setiap tahun memasuki musim kemarau.
Berdasarkan pengamatan warga, serangan ulat bulu hanya terjadi di sekitar empat hingga lima rumah yang berada di dekat sebuah kebun. Sementara rumah-rumah lain di sekitar Gang Reformasi tidak mengalami kondisi serupa.
Nor Hidayati mengatakan warga sempat menduga kemunculan ulat berasal dari area kebun di sekitar permukiman. Sebagai upaya penanganan, rumput di lokasi tersebut telah dibersihkan. Namun, setelah dilakukan pembersihan, jumlah ulat justru semakin banyak.
“Waktu itu kami menduga dari kebun salah satu warga, kami suruh untuk membersihkan. Rumputnya kemudian ditebas, tetapi justru ulatnya semakin banyak. Kami juga tidak tahu penyebabnya,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait segera melakukan peninjauan ke lokasi untuk mengidentifikasi penyebab munculnya ulat bulu sekaligus mengambil langkah penanganan yang tepat. Mereka khawatir populasi hama tersebut terus bertambah dan berpotensi mengganggu kesehatan maupun kenyamanan masyarakat apabila tidak segera ditangani.
























