PALANGKA RAYA – Beragam kerajinan dan budaya lokal turut meramaikan Kalteng Expo 2026 yang digelar di kawasan GOR Indoor Serbaguna Jalan Tjilik Riwut, Kota Palangka Raya, Minggu (17/5/2026) malam.
Di tengah padatnya pengunjung yang memadati area pameran, demonstrasi menjawet uwei atau menganyam rotan khas Dayak di stand Pemerintah Kota Palangka Raya menjadi salah satu atraksi budaya yang paling menarik perhatian masyarakat.
Sejumlah pengunjung tampak berhenti untuk menyaksikan proses anyaman rotan yang dikerjakan secara langsung. Beberapa di antaranya juga terlihat antusias bertanya mengenai motif, teknik anyaman, hingga proses pembuatan kerajinan khas Dayak tersebut.
Jemari Susi tampak lincah menyusun helai demi helai rotan menjadi pola anyaman saat mendemonstrasikan proses menjawet uwei di hadapan pengunjung.
Pemilik usaha kerajinan “Usaha Dare Karuhei” itu mengatakan dirinya memang fokus memproduksi berbagai kerajinan berbahan dasar rotan khas Kalimantan Tengah.
“Kalau yang sedang dikerjakan ini namanya motif mata bilis atau mata ikan,” ujarnya saat ditemui di lokasi pameran.
Ia menjelaskan, hasil anyaman tersebut nantinya dapat dijadikan berbagai produk seperti pajangan dinding, taplak meja, hingga tas berbahan dasar rotan dengan sentuhan motif khas Dayak.
Menurut Susi, produk kerajinan miliknya dibuat secara handmade di rumah produksinya yang berada di Jalan Banteng 17 Gang Marina, Kota Palangka Raya.
Selain anyaman lembaran, dirinya juga mengembangkan berbagai produk modern berbahan dasar rotan yang dipadukan dengan material kulit agar tetap memiliki nilai budaya sekaligus menarik bagi pasar modern.
Produk-produk kerajinan tersebut juga dipasarkan melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Palangka Raya bersama berbagai produk UMKM lokal lainnya.
Perempuan berusia 40 tahun itu mengaku telah menekuni usaha anyaman rotan selama tujuh tahun. Namun keterampilan menjawet uwei sendiri telah dipelajarinya sejak kecil secara turun-temurun dari keluarga.
“Kalau kami memang dari keluarga sudah bisa menganyam dari dulu,” katanya.
Ia menyebut ibunya dikenal mampu membuat anyaman motif Batang Garing yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibanding motif dasar yang banyak dikerjakan generasi muda saat ini.
“Kalau motif besar itu biasanya orang-orang tua dulu yang bisa karena hitungannya beda-beda dan harus hafal,” ujarnya.
Menurut Susi, proses menjawet uwei membutuhkan ketelitian tinggi, terutama dalam menentukan pola, susunan warna, dan hitungan anyaman agar membentuk motif tertentu seperti kodok berenang, mata bilis, hingga batang garing.
Kehadiran demonstrasi menjawet uwei di Kalteng Expo 2026 menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan kerajinan tradisional Dayak kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda agar budaya lokal tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.








































